BUDIDAYA TERNAK PUYUH MULAI DILIRIK DAN DIMINATI WARGA

     Setahun lebih ekosistem pasaran perdagangan kerajinan monel mengalami kemerosotan sehingga berdampak pada menurunnya produktifitas para pengrajin didesa Krasak terutama dari kalangan menengah kebawah.

Hal ini menyebabkan begitu banyak pengrajin -pengrajin monel yang akhirnya gulung tikar karena tak mampu lagi mempertahankan eksistensinya.

kebanyakan para pengrajin monel tersebut beralih profesi menjadi pekerja kasar,buruh harian lepas,pedagang,hingga peternak.

salahsatu pengrajin yang telah menjalani profesinya sebagai peternak ialah Lutfi ni’am warga RT 02 RW 06,ia terpaksa menjajal dan menggeluti dunia peternakan karena imbas kemerosotan dari pasar perdagangan monel.

Dia mulai menekuni dunia peternakan dengan mencoba membudidayakan ternak burung puyuh,untuk diambil hasil dari telurnya yang kemudian untuk dijual dipasar.

     Terbukti dengan semangat dan kerja keras yang dijalani,dari hanya sekedar coba-coba beternak puyuh yang mulanya hanya 200an ekor,sekarang ini ia telah memiliki sekitar 400-500an ekor burung puyuh yang siap dipanen setiap harinya.

Dari sinilah dia akhirnya mulai mengembangkan usaha ternak puyuhnya dengan tidak hanya menjual hasil panennya ke pasar saja,tetapi ia juga memasok ke beberapa penjual makanan.

Usaha ternak puyuh yang cukup mudah dan simple tersebut,akhirnya mulai menarik minat dari sebagian masyarakat untuk mencobanya.

Pemerintah sendiri pun sebenarnya cukup mengapresiasikan bentuk usaha dari masyarakat dengan memberikan bantuan modal usaha bagi UMKM yang membutuhkan dan mau mengajukan.

Harapan daripada Pemerintah,dengan adanya kreatifitas masyarakat dalam mengelola usaha mikro kecil dan menengah nantinya mampu mengurangi resiko pengangguran dan mampu mengentaskan kemiskinan di Indonesia.(red*)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan